|
Nama :
AHMAD HUDORI
Kelas :
VI
|
Tari Pakarena adalah tarian tradisional dari
Sulawesi Selatan yang diiringi oleh 2 (dua) kepala drum (gandrang) dan sepasang
instrument alat semacam suling (puik-puik). Selain tari pakarena yang selama
ini dimainkan oleh maestro tari pakarena Maccoppong Daeng Rannu (alm) di
kabupaten Gowa, juga ada jenis tari pakarena lain yang berasal dari Kabupaten
Kepulauan Selayar yaitu “Tari Pakarena Gantarang”. Disebut sebagai Tari
Pakarena Gantarang karena tarian ini berasal dari sebuah perkampungan yang
merupakan pusat kerajaan di Pulau Selayar pada masa lalu yaitu Gantarang Lalang
Bata. Tarian yang dimainkan oleh empat orang penari perempuan ini pertama kali
ditampilkan pada abad ke 17 tepatnya tahun 1903 saat Pangali Patta Raja
dinobatkan sebagai Raja di Gantarang Lalang Bata.
Tidak ada data yang menyebutkan sejak kapan tarian ini ada dan siapa yang
menciptakan Tari Pakarena Gantarang ini namun masyarakat
meyakini bahwa Tari Pakarena Gantarang berkaitan dengan kemunculan Tumanurung.
Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit untuk untuk memberikan
petunjuk kepada manusia di bumi. Petunjuk yang diberikan tersebut berupa symbol
– simbol berupa gerakan kemudian di kenal sebagai Tari Pakarena Gantarang. Hal
ini hampir senada dengan apa yang dituturkan oleh salah seorang pemain Tari
Pakarena Makassar Munasih Nadjamuddin. Wanita yang sering disama Mama Muna ini
mengatakan bahwa Tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting
langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dahulu. Sebelum
berpisah, botting langi mengajarkan kepada penghuni lino mengenai tata cara
hidup, bercocok tanam hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan
dan kaki. Gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual ketika penduduk di
bumi menyampaikan rasa syukur pada penghuni langit.
Tidak ada komentar:
Write komentar