Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

PENGERTIAN : Wukuf


Wukuf adalah mengasingkan diri atau mengantarkan diri ke suatu “panggung replika” padang Masyhar. Suatu tamsil bagaimana kelak manusia dikumpulkan di suatu padang Masyhar dalam formasi antri menunggu giliran untuk dihisab oleh Allah SWT. Wukuf adalah suatu contoh sebagai peringatan kepada manusia tentang kebenaran Illahi.
Status hukum Wukuf di Arafah adalah rukun yang kalau ditinggalkan maka Hajinya tidak sah. Wukuf juga merupakan puncak ibadah Haji yang dilaksanakan di Padang Arafah dan pada tanggal 9 Zulhizah. sebagaimana sabda Rasulullah :
Alhaju arafah manjaal yalata jam’in kabla tuluw ilafji pakad adraka alhajj(diriwayatkan oleh 5 ahli hadis)
artinya : “Haji itu melakukan wukuf di Arafah”
Pada hari wukuf tanggal 9 Zulhijah yaitu ketika matahari sudah tergelincir atau bergeser dari tengah hari, (pukul 12 siang) hitungan wukuf sudah dimulai. yang pertama dilakukan adalah shalat Zuhur dan Ashar yang dilakukan secara ‘Jamak Taqdim’, yakni shalat Ashar dilakukan bersama shalat Zuhur pada waktu Zuhur dengan 1 X azan dan 2 X iqamat.
Setelah shalat Zuhur dan Ashar, disunatkan seorang imam untuk mulai berkhutbah untuk memberikan bimbingan wukuf, penerangan, seruan-seruan ibadah dan panjatan do’a kepada Allah SWT.

Disunatkan supaya menghadap Qiblat dan memperbanyak membaca do’a,zikir dan membaca Al-Qur’an. Ketika berdo’a hendaklah mengangkat tangan hingga tampak keatas kedua ketiaknya. dan juga disunatkan mengulang-ulang kalimat :
“Laa ilaha illallaah wahdahu laa syarikalah, lahul mulku walahulhamd,yuhyimiit, wahua hayyun layamuutu biyadihil khair,wahua ‘alaa kuli syaiin qadiir
Artinya : “Ya Allah tiada tuhan selain Allah yang tiada sekutu bagi-Nya,bagi-Nya segala kerajaan dan segala puji.Dia yang menghidupkan dan mematikan. Ia hidup tidak mati.Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Maha kuasa.”
Karena ada hadist Nabi yang mengatakan :
“Sebaik-baiknya do’a pada hari Arafah, dan sebaik-baiknya yang kubaca dan dibacanya juga oleh nabi-nabi sebelumku, yaitu : Laa ilaha illallaah wahdahu laa syarikalah, lahul mulku walahulhamd, yuhyimiit, wahua hayyun layamuutu biyadihil khair, wahua ‘alaa kuli syaiin qadiir.” (Hadis Riwayat : Tirmidzi).

SEJARAH : dan Keadaan Ka'bah


SEJARAH : dan Keadaan Ka'bah 
Awalnya, Mekkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.
Bangunan persegi bernama Ka`bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji.
Ka`bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka`bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.
Adalah Ismail, putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, yang kaki mungilnya pertama kali menyentuh sumber mata air zamzam. Akibat penemuan mata air abadi ini, Siti Hajar dan Ismail yang kala itu ditinggal oleh Ibrahim ke Kanaan di tengah padang, tiba-tiba kedatangan banyak musafir. Beberapa memutuskan untuk tinggal, beberapa lagi beranjak.
Ibrahim datang dan kemudian mendapatkan wahyu untuk mendirikan Ka`bah di kota kecil tersebut. Ka`bah sendiri berarti tempat dengan penghormatan dan prestise tertinggi.
Ka`bah yang didirikan Ibrahim terletak persis di tempat Ka`bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh. Adam adalah Nabi yang pertama kali mendirikan Ka`bah.
Tercatat, 1500 SM adalah merupakan tahun pertama Ka`bah kembali didirikan. Berdua dengan putranya yang taat, Ismail, Ibrahim membangun Ka`bah dari bebatuan bukit Hira, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.
Bangunan mereka semakin tinggi dari hari ke hari, dan kemudian selesai dengan panjang 30-31 hasta, lebarnya 20 hasta. Bangunan awal tanpa atap, hanyalah empat tembok persegi dengan dua pintu.
Celah di salah satu sisi bangunan diisi oleh batu hitam besar yang dikenal dengan nama Hajar Aswad. Batu ini tersimpan di bukit Qubays saat banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh.
Batu ini istimewa, sebab diberikan oleh Malaikat Jibril. Hingga saat ini, jutaan umat Muslim dunia mencium batu ini ketika berhaji, sebuah lelaku yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad.
Selesai dibangun, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka`bah yang didaulat sebagai Rumah Tuhan. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.
Karena tidak beratap dan bertembok rendah, sekitar dua meter, barang-barang berharga di dalamnya sering dicuri. Bangsa Quraisy yang memegang kendali atas Mekkah ribuan tahun setelah kematian Ibrahim berinisiatif untuk merenovasinya. Untuk melakukan hal ini, terlebih dahulu bangunan awal harus dirubuhkan.
Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy adalah orang yang pertama kali merobohkan Ka`bah untuk membangunnya menjadi bangunan yang baru.
Pada zaman Nabi Muhammad, renovasi juga pernah dilakukan pasca banjir besar melanda. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quraisy mengenai siapakah yang pantas memasukkan Hajar Aswad ke tempatnya di Ka`bah.
Rasulullah berperan besar dalam hal ini. Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rasulullah meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan secarik kain. Ide ini berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.
Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Ka`bah terletak di ruang sempit terbuka di tengah sebuah mesjid yang kini dikenal dengan Masjidil Haram. Pada akhir tahun 700-an, tiang kayu mesjid diganti dengan marmer dan sayap-sayap mesjid diperluas, ditambah dengan beberapa menara. Renovasi dirasa perlu, menyusul semakin berkembangnya Islam dan semakin banyaknya jemaah haji dari seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.
Wajah Masjidil Haram modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.
Pada penyatuan Arab Saudi tahun 1932, negara ini didaulat menjadi Pelindung Tempat Suci dan Raja Abdul Aziz adalah raja pertama yang menyandang gelar Penjaga Dua Mesjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Pada pemerintahannya, Masjidil Haram diperluas hingga dapat memuat kapasitas 48.000 jemaah, sementara Masjid Nabawi diperluas hingga dapat memuat 17.000 jemaah.
Pada pemerintahan Raja Fahd tahun 1982, kapasitas Masjidil Haram diperluas hingga memuat satu juta jemaah. Renovasi ketiga selesai pada tahun 2005 dengan tambahan beberapa menara. Pada renovasi ketiga ini, sebanyak 500 tiang marmer didirikan, 18 gerbang tambahan juga dibuat. Selain itu, berbagai perangkat modern, seperti pendingin udara, eskalator dan sistem drainase juga ditambahkan.
Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Haram akan diperluas hingga 35 persen, dengan kapasitas luar mesjid dapat menampung 800.000 hingga 1.120.000 jemaah. Jika rampung, bagian dalam Masjidil Haram akan dapat menampung hingga dua juta jemaah.
Banjir Kabah
Bencana alam yang mungkin sering terjadi di wilayah Mekkah adalah banjir. Terbesar tentu saja pada masa banjir bandang Nabi Nuh. Kala itu seluruh bangunan Ka`bah runtuh. Banjir juga terjadi beberapa kali di masa Nabi Muhammad. Sepeninggalnya, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir merusak dinding-dinding Ka`bah.
Salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941. Dalam gambar yang dipublikasikan secara luas, terlihat bagian dalam Masjidil Haram terendam banjir hingga hampir setengah tinggi Kabah.
Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa. Banjir-banjir inilah yang kemudian membuat beberapa tiang mesjid yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh. Kerajaan Saudi terpaksa harus melakukan perbaikan beberapa kali untuk mengatasi hal ini.
Banjir sering terjadi di Mekkah karena letak geografis kota tersebut yang diapit beberapa bukit. Hal ini menjadikan Mekkah berada di dataran rendah yang letaknya seperti mangkuk. Air hujan tidak dapat dapat mudah diserap oleh tanah, mengingat lahan Timur Tengah yang tandus. Alhasil banjir bisa berlangsung selama beberapa lama. Ditambah lagi, sistem drainase kala itu tidak sebaik sekarang.
Selain banjir, berbagai insiden pertumpahan darah tercatat pernah mewarnai sejarah Masjidil Haram. Mulai dari zaman sebelum Nabi Muhammad lahir hingga ke zaman modern di abad ke 20. Beberapa insiden tersebut diakhiri dengan kemenangan para penguasa Ka`bah.
Serangan Gajah
Serangan terhadap Ka`bah yang paling terkenal terjadi pada tahun 571 Masehi, tahun kelahiran Nabi Muhammad. Kala itu, sebanyak 60.000 pasukan gajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, Abrahah, berencana menyerbu Mekkah dan menghancurkan Ka`bah.
Negara Yaman adalah salah satu negara Kristen besar kala itu. Sebuah gereja besar yang indah didirikan pada pemerintahan Raja Yaman, Habshah. Gereja tersebut bernama Qullais. Abrahah sebagai pembina gereja bersumpah akan memalingkan pemujaan warga Arab dari Ka`bah di Mekkah ke gerejanya di Yaman.
Alkisah, mendengar hal ini, seorang Arab dari qabilah Bani Faqim bin Addiy tersinggung kemudian masuk ke dalam gereja dan membuang hajat di dalamnya. Abrahah marah luar biasa dan bersumpah akan meruntuhkan Ka`bah. Berangkatlah dia beserta tentara terkuatnya, menunggang 60.000 ekor gajah.
Tidak ada satupun kekuatan kabilah Arab Saudi yang mampu menandingi kekuatan puluhan ribu tentara gajah tersebut. Berdasarkan komando dari kakek Muhammad, Abdul Mutalib, para penduduk Mekkah mengungsi ke puncak-puncak bukit di sekeliling Ka`bah. Berangkatlah rombongan tentara Abrahah menuju Ka`bah, hendak menghancurkan bangunan mulia tersebut.
Menurut kisah, laju tentara gajah terhenti akibat serangan dari ribuan burung Ababil. Burung-burung ini membawa tiga butir batu panas di kedua kakinya dan paruhnya. Dilepaskannya batu-batu tersebut di atas tentara gajah. Batu yang konon berasal dari neraka itu menembus daging para tentara dan gajah-gajah mereka. Sebuah tafsir mengatakan burung-burung itu membawa penyakit cacar yang menyebabkan para tentara Abrahah tewas akibat bisul yang sangat panas.
Inilah sebabnya, tahun penyerangan tentara Abrahah ke Mekkah dinamakan sebagai Tahun Gajah. Kisah ini juga tertulis jelas di surat Al Fiil di kitab suci Al-Quran. Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (Al Fiil: 3-4).
Bentrok dengan Iran
Di zaman modern, insiden paling sering adalah bentrok aparat keamanan Arab Saudi dengan para demonstran asal Iran. Kehadiran para demonstran merupakan perintah dari pemerintah Iran agar para jemaah haji Iran menyampaikan protes terhadap kerajaan Saudi.
Kerusuhan terparah terjadi pada 31 Juli 1987 yang menewaskan 401 orang. Di antaranya adalah 275 warga Iran, 85 warga Arab Saudi, dan 42 jemaah haji asal negara lain. Sebanyak 643 orang terluka, kebanyakan adalah jemaah haji Iran.
Perseteruan antara Arab Saudi dengan Iran sudah berlangsung relatif lama. Dimulai saat Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama Salaf kenamaan Arab Saudi, memerintahkan penghancuran beberapa makam yang dikultuskan umat Islam di Hejaz, termasuk makam ulama Syiah Al-Baqi, pada tahun 1925.
Tindakan ini tidak ayal membuat marah pemerintahan dan rakyat Iran yang mayoritas Syiah. Kemelut pun dimulai, Iran menyerukan penggulingan pemerintahan di Arab Saudi dan melarang seluruh warga Iran pergi haji pada tahun 1927.
Ketegangan bertambah parah setelah pada tahun 1943, pemerintah Arab Saudi memenggal kepala seorang jemaah haji Iran karena membawa kotoran manusia di pakaiannya ke dalam Masjidil Haram di Mekkah.
Iran protes keras dan melarang warganya pergi haji hingga tahun 1948.
Sejak saat itu, demonstrasi jemaah haji Iran terus dilakukan di Mekkah. Ini berkat imbauan Ayatullah Khomeini pada tahun 1971 yang memerintahkan setiap jemaah haji Iran untuk berhaji sambil menyampaikan pandangan politik mereka terhadap pemerintah Arab Saudi. Para jemaah Iran menyebut demonstrasi ini dengan nama Menjaga Jarak dengan Para Musryikin.
Pada tahun 1982, situasi kedua negara sempat tenang. Khomeini memerintahkan rakyatnya menjaga ketertiban dan perdamaian, tidak menyebarkan pamflet-pamflet propaganda, dan untuk tidak mengkritik pemerintahan Arab Saudi.
Sebagai balasannya, kerajaan Arab Saudi membebaskan jemaah haji Iran untuk kembali berhaji. Sebelumnya, Saudi membatasi jumlah jemaah haji asal Iran untuk menghindari konflik.
Ketegangan kembali terjadi pada Jumat, 31 Juli 1987. Para jemaah haji Iran melakukan pawai protes menentang para musuh Islam, yaitu Israel dan Amerika Serikat, di kota Mekkah. Ketika sampai di depan Masjidil Haram, mereka diblokir oleh aparat keamanan Arab Saudi, namun mereka tetap memaksa masuk.
Bentrokan berdarah kemudian terjadi yang mengakibatkan situasi kacau dengan beberapa orang terinjak-injak oleh massa yang panik.
Ada beberapa versi pemicu kematian ratusan orang pada insiden ini. Pemerintah Iran mengatakan, aparat keamanan Saudi melepaskan tembakan ke arah demonstran damai, sementara Arab Saudi mengatakan bahwa korban tewas akibat terjepit dan terinjak jemaah yang panik. Akibat hal ini, hubungan kedua negara kembali renggang dan pemerintah Arab Saudi kembali menerapkan pembatasan jemaah haji Iran.
Mahdi Palsu
Peristiwa berdarah lainnya terjadi pada 20 November 1979. Kala itu ratusan orang bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera puluhan ribu jemaah haji di dalamnya.
Penyanderaan dipimpin oleh Juhaimin Ibnu Muhammad Ibnu Saif al-Otaibi yang mengatakan saudara iparnya, Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah Imam Mahdi atau sang penyelamat akhir zaman.
Dilaporkan sebanyak 400-500 militan Otaibi, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak, mengeluarkan senjata yang mereka sembunyikan di balik baju dan merantai gerbang Masjidil Haram. Mereka memerintahkan para jemaah untuk tunduk kepada Mahdi palsu, Al-Qahtani. Penyanderaan berlangsung selama dua minggu, sebelum akhirnya para militan diberantas oleh pasukan bersenjata gabungan antara Arab Saudi dengan beberapa negara.
Pasukan Arab Saudi sempat dipukul mundur karena hebatnya persenjataan para militan. Seluruh warga Mekkah dievakuasi ke beberapa daerah.
Pasukan kerajaan siap melakukan gempuran mematikan. Namun, mereka harus meminta izin dari ulama besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, yang telah melarang segala jenis kekerasan di Masjidil Haram. Akhirnya dia mengeluarkan fatwa penyerangan mematikan untuk mengambil alih Ka`bah.
Dilaporkan 255 jemaat haji dan militan Otaibi tewas dalam penyerangan tersebut, sebanyak 560 orang terluka. Dari sisi tentara Arab Saudi, sebanyak 127 tewas dan 451 terluka.
Berbagai cerita berbeda mengisahkan saat-saat penyerangan oleh tentara gabungan Arab Saudi, Pakistan dan Perancis.
Salah satu laporan mengatakan tentara membanjiri Masjidil Haram dengan air dan mengalirinya dengan listrik, menyetrum para militan. Laporan lainnya mengatakan para tentara menggunakan gas beracun. Pasukan Perancis dipanggil karena pasukan Arab Saudi tidak berdaya.
Tentara Perancis ini dikabarkan menjadi Muslim dahulu sebelum masuk Masjidil Haram. Langkah ini mereka lakukan lantaran Masjidil Haram hanya boleh dimasuki oleh umat Muslim. Allahu alam.

SEJARAH : Batu Hajar Aswad


Sejarah Batu Hajar Aswad – Pernahkah kalian berfikir bagaimana sejarah batu Hajar Aswad di Mekkah pertama kali muncul? apa sih keistimewaannya? lewat perantara apa kok ada Hajar Aswad? Bagaimana sejarah awal diletakkannya Hajar Aswad di Mekah? apakah Hajar aswad pernah kecuri atau dirampok?
Dari semuanya pertanyaan yang muncul dari fikiran kita, kita akan berusaha menjelaskan informasi selengkap-lengkapnya dan sedetailnya tentang sejarah batu hajar aswad agar kita puas dan tidak bingung cari referensi ke yang lainnya (hehe).

Apa Itu Batu Hajar Aswad?
Nama Hajar Aswad sendiri kalau diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah batu hitam. Hajar Aswad diletakkan di sudut timur Ka’bah. Mengenai asal usul keberadaan Hajar Aswad banyak berselisih pendapat apakah sudah ada dari zaman Nabi Adam atau baru muncul di zaman Nabi Ibrahim.
Kalau menurut saya sih batu tersebut pertama kali ditemukan oleh Nabi Ismail dan diletakkan oleh Nabi Ibrahim ketika mereka membangun ka’bah (terserah mau ikutan aliran yang mana, masing-masing ada referensi).
Keunikan dari batu Hajar Aswad adalah aromanya yang khas dan awet bahkan semenjak diturunkannya.
Batu tersebut berasal dari surga dan konon dulunya batu tersebut berwarna putih dan terang benderang, namun karena sering dipegangi oleh orang yang berdosa batu tersebut lama-kelamaan menjadi hitam legam seperti saat ini.

Berdasarkan hadist Rasulullah SAW
“Hajar Aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih dari susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam (HR. Tirmidzi no. 877, shahih menurut syaikh Al Albani).

Alasan dan Fungsi di Balik Hajar Aswad
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa fungsi dari Hajar Aswad adalah sebagai penanda bagi umat manusia untuk berkumpul dan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Ka’bah. Setelah Nabi Ibrahim mendapatkan batu tersebut, beliau menciumnya diikuti oleh anaknya Ismail. Kejadian inilah mengapa sekarang banyak kaum muslimin mencium Hajar Aswad dan memang menciumnya adalah suatu hal yang disunahkan.
Setelah Ka’bah sudah dibangun kemudian Allah memerintahkan beliau untuk memberitahukan kepada seluruh umat manusia bahwa diwajibkannya melakukan ziarah ke Ka’bah. Dari wahyu tersebutlah yang kemudian munculnya ibadah Haji.
Ka’bah berdasarkan penelitian oleh para ahli diyakini dibangun di tahun 2130 sebelum masehi dan dinobatkan sebagai masjid pertama dan tertua di dunia dalam sejarah umat manusia.
Berdasarkan fungsinya sudah kita jelaskan sebelumnya bahwa Hajar Aswad hanya bagian dari Ka’bah dan sebagai penanda saja. Batu tersebut bukanlah sesembahan sebagaimana klaim orang kafir dan orang liberal.
Di dalam Al’quran Allah sudah menegaskan tentang ka’bah sendiri yaitu:
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran : 96).
Dan dari mana saja kamu , maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. (QS. Al-Baqarah : 150).
Berdasarkan riwayat juga tentang Umar bin Khatab ketika berkata “Aku tahu, sesungguhnya kamu cuma batu biasa. Andaikan aku tidak melihat Rasulullah S.A.W menciummu, sudah tentu aku tidak akan menciumnya.”

Sejarah Batu Hajar Aswad
Semenjak munculnya Hajar Aswad puluhan ribu tahun yang lalu, terdapat banyak kisah-kisah yang berhubungan dengan batu tersebut. Dari yang pernah dirampok sampai kisah Rasulullah SAW tentang siapa yang berhak untuk meletakkan batu tersebut.

Perselisihan di Masa Rasulullah
Ketika Rasulullah belum diangkat sebagai nabi diusianya yang 30 tahun, ada banjir besar melanda Mekkah dan  Masjidil Haram. Karena khawatir akan meruntuhkan ka’bah, kaum quraisy melakukan renovasi besar-besaran terhadap bangunan tersebut.
Ka’bah kemudian dirobohkan dan dibangun mulai dari dasar. Rasulullah sendiri ikut turun tangan dalam pembangunan tersebut.
Untuk dananya mereka mengumpulkannya dari masyarakat sekitar dan hanya mau menerima harta yang baik-baik saja, mereka tidak mau harta dari para pelacur dan hasil judi.


Setelah pembangunan hampir selesai dan sampai dibagian peletakkan Hajar Aswad, perselisihan mulai terjadi diantara mereka selama 5 hari tentang siapa yang lebih pantas untuk meletakkan batu tersebut ke tempat semula.

Akhirnya mereka sepakat bahwa yang meletakkan pertama kali adalah siapa yang pertama kali masuk dari pintu masjid. Ternyata Rasulullah orangnya.
Rasulullah memiliki cara supaya semua orang bisa terlibat untuk meletakkan batu. Caranya beliau mengambil selendang dan meletakkan Hajar Aswad ditengah-tengah selendang tersebut. Kemudian beliau menyuruh setiap kabilah untuk memegang ujung-ujung dari kain tersebut dan bersama-sama untuk membawa batu tersebut ke tempatnya.

Dirampoknya Batu Hajar Aswad
Pelaku yang melakukannya adalah Abu Tahir, tepatnya 317 H. Pada tahun tersebut Abu Tahir beserta pasukannya melakukan penjarahan terhadap penduduk Masjidil Haram dan mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya (wah keterlaluan nih, kalau masih hidup sudah didemo 1 milyar penduduk muslim tuh).
Semua daya dan upaya dikerahkan untuk mengambil Batu tersebut dari tangan sang perampok tersebut, mulai diiming-iming harta dari Amir Mekah dan keluarganya tapi kayaknya keyakinannya si Abu Tahir kuat( apa-apaan ini ).
22 tahun kemudian tepatnya tahun 339 H Hajar Aswad kemudian dikembalikan ke Mekkah.
Perbuatan terkutuk Abu Thahir tersebut digambarkan oleh Ibnu Katsir sebagaimana  beliau mengatakan “Dia telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya”. [Al Bidayah wan Nihayah, 11/191. Di halaman 190-192].

Pecahnya Batu Hajar Aswad
Setelah batu Hajar Aswad dikembalikan ketempat semula, keadaannya masih belum aman. Di tahun 363 H datang orang romawi ke Mekkah dengan membawa cangkul. Dia cangkul Hajar Aswad hingga berbekas, untungnya belum pecah. Perbuatannya tersebut dihentikan oleh seseorang dari Yaman.
Niatan untuk merusak Hajar Aswad belum sampai situ saja. Kemudian di tahun 413 H datang seseorang dari Bani Fatimiyah bernama Hakim al Abidi membawa pedang dan pahat dengan tujuan menghancurkan batu tersebut karena mengira batu tersebut disembah oleh orang-orang. Dipukulkannya Hajar Aswad tiga kali sampai pecah berjatuhan.
Di tahun 990 H pangeran Nashim menikam seseorang dengan belati karena orang tersebut membawa kapak dan memukulkannya pada Hajar Aswad.
Lalu yang terakhir pada tahun 1351 H pecahan dari batu Hajar Aswad beserta Kiswah dan potongan perak diambil oleh seseorang yang  berasal dari Afganistan, akhirnya ketahuan dan dihukum mati.


Kontroversi Peneliti Tentang Batu Hajar Aswad
Sebagaimana yang kita ketahui sebelumnya bahwa Hajar Aswad adalah batu yang diturunkan dari surga, namun banyak peneliti yang membantah hal tersebut dengan tesis dan opini mereka sendiri.
Di tahun 1857 sebagaimana dikutip dalam laman Wikipedia, Paul Partsch seorang peneliti dari kekaisaran Austria-Hungaria telah menerbitkan karya ilmiahnya bahwa bahan Hajar Aswad dari batu meteorit.
kemudian di tahun 1974, malahan yang paling lucu Robert Dietz dan juga  John McHone beranggapan bahwa batu Hajar Aswaed adalah sejenis dari batu akik berdasarkan ciri-ciri dan laporan dari ahli geologi dari Arab.
Terakhir pada tahun 1980, peneliti dari University of Copenhagen, Elsebeth
Thomson berhipotesis bahwa Hajar Aswad terbuat dari fragmen kaca ataupun impactite.
Namun semua anggapan tersebut dibantahkan karena berdasarkan riwayat yang shahih bahwa batu tersebut bisa mengapung di dalam air. Riwayat tersebut benar karena bahan dari meteorit mudah tenggelam jika dimasukkan ke dalam air.
Masih banyak lagi pihak luar yang beranggapan bahwa Hajar Aswad adalah batu meteor (kurang kerjaan aja nih mereka). Kita sebagai muslim jangan terperdaya dengan anggapan mereka karena sudah jelas bahwa batu Hajar Aswad berasal dari surga berdasarkan hadist Rasulullah SAW.