Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2018

Khutbah Jumat : Keimanan Umat Akhir Zaman



إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَـغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله ِمِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا  وَ مِنْ سَـيِّـَئاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُأَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيرًا بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ, مَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَـقَدْ رَشَدَ, وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَاِنَّهُ لَا يَضُرُّ اِلَّا نَفْسَهُ وَلَا يَضُرُّ اللهَ شَيْءً  أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ  مُسْلِمُونَ  اَللَّهُمَّ صَلِّ وّسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ  وَ التـَّابِعِيْنَ  وَاتَّـابِعُ التـَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِ حْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ.
فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ , وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِىالنَّارِ
Para hamba Allah, sidang Jum’at rahimakumullah.
Pada kesempatan yang berbahagia ini khotib berwasiat kepada dirinya dan kaum muslimin yang hadir pada majelis ini, dengan wasiat taqwa, sebagaimana  firman Allah yang telah dibacakan tadi yang artinya:  “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati melainkan  dalam keadaan muslim”.
Salah satu keistimewaan umat akhir zaman adalah menjadi penyaksi sejarah kebenaran ayat-ayat Allah dan nubuwwat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kalau masa dahulu tatkala Rasulullah masih berada di tengah-tengah umat, keimanan para shahabat benar-benar paripurna. Keimanan mereka terhujam dalam hati sanubari. Meskipun apa yang dikatakan oleh Al Qur’an dan Sabda Rasulullah, belum nyata pada penginderaan mereka, namun ketika benar berasal dari Allah dan Rasul-Nya, tanpa ada keraguan sedikitpun, mereka menyatakan keimanan.
Para hamba Allah, itulah umat terdahulu, sebaik-baik umat yang Allah taqdirkan menjadi pendamping kerasulan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Lain halnya dengan kita saat ini, umat Rasulullah akhir zaman. Meskipun fisik beliau tidak berada di tengah-tengah kita, akan tetapi nubuwwat yang beliau sabdakan 14 abad silam, nyata dan benar-benar terjadi dalam lintasan sejarah. Begitupula ayat-ayat Al Qur’an, benar-benar aksiomatik yang kebenarannya mutlak siap diuji di pentas ilmiah. Sehingga tidak ada celah untuk meragukan, kebenarannya tak mungkin tertutupi, ibarat terangnya cahaya matahari di siang hari. Jelas dan tegas. Pada kondisi seperti ini  penolakan terhadap kebenaran Al Islam bukan karena kaburnya berita, melainkan lantaran kejahilan dan hasadnya hati. Mereka tidak mencintai Allah si Pemilik Al Haq yang telah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan Al Islam. Mereka tidak takut terhadap ancaman Allah yang memiliki perbendaharaan siksa yang pedih. Mereka tidak berpihak kepada Allah, sebaliknya lebih berpihak kepada hawa nafsunya. Mereka pada dasarnya, sadar atau tidak sadar, telah bertuhan kepada hawa nafsu, firman Allah yang artinya:
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya? Dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran(QS. Al Jatsiyah :23)
Para Hamba Allah Kaum Muslimin Hafizhokumullah,
Walaupun kebenaran telah nyata, bukan berarti keimanan umat akhir zaman mulus berlalu tanpa ujian. Ujian tetap ada sepanjang masa. Ujian keimanan bagi segenap umat adalah sunnatullah yang mesti dilalui oleh siapapun yang menghendaki jalan kebenaran. Ujian keimanan yang dihadapi oleh umat akhir zaman adalah antara lain:
Pertama, mereka beriman ketika kondisi umat terpecah-belah dalam berbagai golongan dan pemahaman. Dalam sebuah hadits, Beliau bersabda, yang artinya:
أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab itu berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi  tujuh puluh tiga golongan, yang tujuh puluh  dua golongan di dalam neraka sedang yang satu di dalam surga, yaitu Al-Jama’ah….” HR. Abu Dawud dan Ahmad.
Para Hamba Allah Sekalian,
Inilah salah satu perbedaan mendasar antara kondisi Muslimin pada masa Rasulullah dan para sahabat, dengan Ummat Islam kala ini. Kalau dulu kaum Muslimin hidup terpimpin, satu jama’ah dan satu komando dari Rasulullah atau khalifah sebagai pemimpin umat. Namun saat ini umat Islam hidup membutir, bergolong-golongan, terkotak-kotak dalam sekat teritorial negara, saling membanggakan mazhab, saling menghujat, dan berbagai sikap dan perilaku yang mengarah pada ikhtilaf dan tafarruq. Dalam Al Qur’an Allah sebutkan, situasi seperti ini hanya akan mendatangkan azab yang pedih:
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
 “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan  yang nyata, bagi mereka azab yang pedih”. (QS. Ali Imran:105).
Para hamba Allah kaum muslimin, rahimakumullah.
Seharusnya dengan nubuwwat Rasulullah seperti disebutkan tadi, tentang terpecahnya muslimin dalam banyak golongan, dan sekarang sudah nyata-nyata terjadi, menjadikan umat akhir zaman, kita-kita ini, untuk semakin selektif dalam menyeleksi apa-apa yang harus diikuti dan mana yang mesti ditinggalkan. Kalau kita lihat redaksi hadits di atas, maka seharusnya fokus perhatian kita, adalah kembali pada kalimat Al Jama’ah, agar kita selamat dari situasi perpecahan dan perselisihan umat.
Kemudian, ujian kedua, adanya manusia-manusia yang menyampaikan seruan, terlihat seperti menyampaikan kebenaran, akan tetapi sebenarnya justru menyeru kepada pintu-pintu neraka.
Dalam sebuah hadits yang panjang dari sahabat Huzaifah Ibnul Yaman, beliau bersabda,
قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا
“…..Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya ke dalam Jahannam itu.” Aku bertanya: “Ya Rasu lullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.” Rasululah menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah (bahasa) kita……….”. HR.Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.

Para hamba Allah, hari ini nubuwwat tersebut benar-benar nyata. Lihat dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi di sekeliling kita, banyak sekali mereka yang memperlihatkan fisik seperti seorang muslim yang sholeh, akan tetapi hatinya serigala, lisannya penuh dengan fitnah dan petuahnya adalah petuah menuju kesesatan. Ada yang mengingkari hadits Rasulullah, ada yang ingin merenovasi syariat Islam, ada yang meragukan kebenaran al jama’ah dan kembalinya khilafah, ada yang mengatakan baiat yang dilakukan saat ini adalah bid’ah,  serta ada pula yang meyakini hadirnya nabi baru, bahkan ada yang mengaku sebagai jibril dan Imam Mahdi.  Naudzubillah min dzalik.
Diriwayatkan dari  Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Bahwasanya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan  para ulama, orang akan banyak memilih orang-orang jahil sebagai pemimpinnya.  Apabila pemimpin yang jahil itu ditanya mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain”. (HR. Muslim).
Para hamba Allah Kaum muslimin Rahimakumullah,
Berikutnya ujian ketiga, yakni: dorongan kepada syahwat dan daya tarik duniawi yang sampai pada titik klimaks. Sebuah hadits menyatakan, bahwa beliau Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ ا ْلأ هْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لاَ يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلاَ مَفْصِلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ
“….dan sesungguhnya akan ada dari umatku beberapa kaum yang dijangkiti oleh hawa nafsu sebagaimana menjalarnya penyakit anjing gila dengan orang yang dijangkitinya, tidak tinggal satu urat dan sendi ruas tulangnya, melainkan dijangkitinya.”  (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Para hamba Allah sekalian,
Fitnah syahwat sekarang ini, benar-benar telah sampai pada titik yang sangat meprihatinkan. Manusia berlomba-lomba mengumbar syahwat. Manusia yang mukmin sangat teruji untuk istiqomah agar bersih dari fitnah syahwat. Kalaupun ia mampu, bisa jadi anak dan istrinya terjerumus kedalam lingkaran fitnah syahwat. Dunia, saat ini diperlihatkan kepada kita dalam bentuk  yang tidak membuat mata kita berkedip dan membuat nafsu kita bergejolak.
Dalam sebuah hadits, Beliau bersabda yang artinya:
“Akan datang suatu zaman saat itu orang yang beriman tidak akan dapat menyelamatkan imannya, kecuali bila dia lari membawanya dari puncak bukit ke puncak bukit yang lain dan dari suatu gua ke gua yang lain. Maka  apabila zaman itu telah tiba, segala mata pencaharian tidak dapat diperoleh kecuali dengan melaksanakan sesuatu yang menyebabkan kemurkaan Allah. Apabila ini terjadi, maka kebinasaan seseorang  adalah dari sebab mengikuti kehendak isteri dan anak-anaknya. Kalau ia tidak mempunyai isteri dan anak, maka kebinasaannya dari sebab mengikuti kehendak kedua orang tuanya. Dan jikalau orangtuanya sudah tiada, maka kebinasaannya dari sebab mengikuti kehendak familinya atau dari sebab mengikuti kehendak tetangganya”. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah maksud perkataan engkau itu?”. Nabi menjawab, “Mereka akan menghinanya dengan kesempitan kehidupannya. Maka ketika  itu lalu dia menceburkan dirinya di jurang-jurang kebinasaan yang akan menghancurkan dirinya”. (HR. Baihaq).
Para hamba Allah kaum muslimin rahimakumullah,
Setidaknya tiga hal di atas yang dihadapi oleh umat akhir zaman, dan itu adalah ujian keimanan bagi mereka, siapa yang tetap istiqomah, serta siapa yang mundur dari barisan keimanan.  Semoga kita semua, termasuk pada golongan yang istiqomah pada al haq.
بَا رَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيْمِ  وَنَفَعَنِي وَاِيَا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلَا يَا تِ وَذِّكْرِالْحَكِيْم اَقُوْلُ قَوْلِي هَاذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْم لِي وَلَكُمْ وَلِسَا ءِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَا سْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِلُزُمِ الْجَمَاعَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍالَّذِىْ اَرْسَلَهُ اللهُ
إِلَى جَمِيْعِ الْأُمَّةِ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَانِ لْأُ مًّةِ. اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّااللهُ
وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِـيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وّسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ
وَالتَّا بِعِيْنَ وَاتَّـابِعُ التـَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِ حْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Para hamba Allah kaum muslimin rahimakumullah,
Menghadapi berbagai ujian keimanan, yang terjadi di hadapan kita, maka sebenarnya Allah juga telah menyiapkan jawabannya. Sebuah hadits Rasulullah, memberikan petunjuk kepada kita, bahwa dalam situasi fitnah kita diperintahkan untuk:
Meningkatkan ketaqwaan, senantiasa sam’i wa thoah atau mendengar dan taat, dan berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah Khulafaurrasyidin Al Mahdiyyin (para khalifah yang lurus dan diberi petunjuk).
Dari Abu Najih Al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa alihi Wasallam tengah menasehati kami dengan sebuah nasehat yang membuat gemetar hati-hati kami dan meneteskan air mata kami, maka kami katakan: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi Wasallam seakan-akan ini sebuah nasehat perpisahan, maka nasehatilah kami. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa alihi Wasallam berkata:
اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَاِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَاِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الْأُمُورَ فَاِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَاِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Aku wasiatkan agar kalian bertaqwa kepada Allah, dan mendengar dan taat  sekalipun yang memimpinmu adalah seorang budak Habsyi, karena orang yang hidup diantara kamu di kemudian hari setelahku  akan melihat perselisihan yang banyak . Oleh karena itu, hendaklah kamu berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin almahdiyyin (para kholifah yang mendapat petunjuk yang benar). Hendaklah kamu pegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara-perkara yang baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan itu bid’ah dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At Tarmizi).
Para hamba Allah kaum muslimin rahimakumullah,
Wasiat Rasulullah yang tertuang dalam hadits tersebut, adalah jalan selamat. Jalan orang-orang yang berpihak kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita manusia-manusia yang berpegang teguh pada buhul al haq dan senantiasa istiqomah mnejadi Hizbullah.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.
Akhirnya marilah kita munajat kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala:
اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَارَبَّيَانَا صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ.
اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ اْلأَحْزَابِ إِهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ ,
 اَللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لنَاَ ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْعنَاَّ سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلاَبْرَارِ,
 رَبَّنَا اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ اْلكَافِرِيْنَ ,
 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ,
 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفيِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ,
 وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ مَعَ اْلاَبْرَارِ يَاعَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ,
 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


Sabtu, 17 Maret 2018

Khutbah Jum'at : Cara Beriman Kitab - Kitab Yang Allah Turunkan


Cara Beriman Kitab - Kitab Yang Allah Turunkan 
Khutbah Pertama :
الحمد لله العزيز العليم ، الحكيم الخبير ، القائل في محكم التنزيل: {وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ}[الشورى:15] ، وأشهدُ أن لا إله إلا اللهُ وحده لا شريك له ؛ إله الأولين والآخرين ، وقيوم السماوات والأراضين ، وخالق الخلق أجمعين ، وأشهد أنَّ محمدًا عبدُه ورسوله ، الصادق الوعد الأمين ، بلَّغ الرسالة ، وأدى الأمانة ، ونصح الأمة ، وجاهد في الله حق جهاده حتى أتاه اليقين ؛ صلى الله وسلَّم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين .
أما بعد أيها المؤمنين: اتقوا الله ربكم ، وراقبوه في جميع أعمالكم ، واعلموا أن السعادة في الدنيا والآخرة في تحقيق تقواه وطلب رضاه جل في علاه .

Ayyuhal mukminun,
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan mengabarkan segala yang kita perbuat di dunia ini. Dia bijaksana dalam syariat-Nya, ciptaan-Nya, dan pembalasan-Nya. Dia mengatur segala urusan dengan sifat-Nya yang Maha Bijak. Di antara bentuk kebijaksanaan-Nya adalah Dia tidak menciptakan semua ciptaan-Nya itu sia-sia. Dia tidak membuat mereka ada di dunia ini menjadi sesuatu yang batil. Dan tidak mebiarkan mereka begitu saja, tanpa ada perintah dan larangan. Allah Jalla wa ‘Ala menciptakan mereka dengan memerintahkan mereka pada kebaikan dan melarang mereka dari yang buruk. Memerintahkan mereka untuk beribadah dan mentauhidkan-Nya. Mengerjakan perintah-Nya dan menaati-Nya. Untuk mendukung tujuan ini, Dia utus para rasul dan Dia turunkan kitab-kitab. Sebagai panduan kebenaran dan petunjuk yang jelas.

Ayyuhal mukminun,
Karena itulah, di antara pokok keimanan yang agung dan prinsip agama yang kuat adalah beriman kepada kitab-kitab yang Allah Ta’ala turunkan kepada rasul-Nya. Kitab tersebut datang dengan membawa kebenaran dan petunjuk. Membimbing para hamba agar sukses dan bahagia hidup di dunia dan akhirat. Inilah prinsip yang sejati. Sebuah prinsip yang agama ini menjadi tegak. Allah Ta’ala berfirman,
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.[Quran Al-Baqarah: 136].
Allah Ta’ala berfirman,
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. [Quran Al-Baqarah: 285].
Dalam firman-Nya yang lain:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” [Quran Al-Baqarah: 177].
Dan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [Quran An-Nisa: 136].
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang memiliki makna serupa.
Ayyuhal mukminun,
Prinsip atau kaidah yang umum dalam iman kepada kitab-kitab adalah kita beriman pada semua kitab yang Allah turunkan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ
“Dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah…” [Quran Asy-Syura: 15].
Maksudnya kitab yang diturunkan kepada semua rasul, baik yang saya ketahui kitab tersebut maupun tidak saya ketauhi. Beriman bahwasanya kitab-kitab tersebut diturunkan dengan membawa kebenaran, petunjuk, kesuksesan, dan kebahagiaan bagi para hamba di dunia dan akhirat. Kita beriman bahwasanya kitab-kitab tersebut adalah wahyu dari Allah dan kalam-Nya yang turun dari sisi-Nya.
Kita juga mengimani bahwasanya tidak ada hidayah bagi seorang hamba dan tidak ada kemenangan kecuali dengan beriman kepada kitab-kitab tersebut. Kitab-kitab inilah yang memberi petunjuk dalam kegelapan. Kitab inilah yang menerangi manusia dalam meniti jalan kehidupan. Sehingga ia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana petunjuk dan mana kesesatan. Mana yang Allah ridhai dan mana yang tidak Dia ridhai. Semua itu tidak dapat diketahui kecuali melalui wahyu Allah dan kalam-Nya yang Dia turunkan.
Sesungguhnya termasuk hikmah Allah Jalla wa ‘Ala terhadap umat manusia adalah Dia mengutus rasul-rasul dan menurunkan kitab-kitab. Semua kitab yang diturunkan pada suatu umat pasti membawa perbaikan untuk umat tersebut. Sampai akhirnya Allah sempurnakan dan akhiri kitab-kitab tersebut dengan Alquran. Inilah kitab yang menjadi penutup semua kitab yang turun dari sisi Allah Rabbul ‘alamin. Persis seperti tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, tidak ada kitab lagi setelah kitab yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan demikian, Alquran menjadi penghapus hukum-hukum dalam kitab-kitab sebelumnya yang tidak sesuai dengannya. Setelah turunnya Alquran, tidak ada iman, amal, dan hukum kecuali yang bersumber pada Alquran. Inilah makna firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 48.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.” [Quran Al-Maidah: 48].

Ma’asyiral mukminin,
Inilah Alquran yang agung yang menjadi penutup kitab-kitab suci sebelumnya. Inilah kitab yang paling agung kedudukanya, paling mulia keadaannya, dan paling tinggi derajatnya. Wajib bagi setiap manusia yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beriman dengan Alquran. Siapa yang tidak beriman kepada Alquran, maka menjadi hak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam neraka.

 Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik seorang yahudi atau Nasrani, lalu ia mati dan tidak beriman dengan yang aku diutus dengannya, melainkan ia adalah penghuni neraka.” (HR. Muslim).

Ayyuhal mukminun,
Bentuk nyata beriman dengan Alquran adalah membenarkan semua yang termaktub dalam Alquran. Mengamalkan perintahnya. Mencegah diri dari larangannya. Mengambil pelajaran dari permisalannya. Menjadikan kisah-kisahnya sebagai nasihat. Beriman dengan hukum-hukumnya. Berserah diri dengan ayat-ayatnya. Membacanya di siang atau malam hari. Bersungguh-sungguh untuk menadabburi kisah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Memikirkan maknanya. Dan berdakwah dengan petunjuknya.

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” [Quran Al-Isra: 9]

Dan hendaknya seorang hamba bersungguh-sungguh untuk menjadi ahlul quran. Karena ahlul quran adalah keluarga Allah.
أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب؛ فاستغفروه يغفر لكم إنه هو الغفور الرحيم .

Khutbah Kedua:
الحمد لله كثيرا ، وأشهد أن لا إله إلا اللهُ وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلَّم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين . أمَّا بعد أيها المؤمنون: اتّقوا الله تعالى ، وتزودوا فإن خير الزاد التقوى .
وصلُّوا وسلِّموا رعاكم الله على محمد ابن عبد الله كما أمركم الله بذلك في كتابه فقال : ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب:٥٦] .
اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد ، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد ، اللهم وارض عن الصحابة أجمعين ، اللهم وأصلح لنا شأننا أجمعين ، اللهم اهدنا إليك صراطًا مستقيما . اللهم اغفر لنا ذنبنا كله ، اللهم وفق ولي أمرنا لهداك، اللهم آت نفوسنا تقواها ، زكها أنت خير من زكاها ، أنت وليها ومولاها . ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار . اللهم أغثنا ، اللهم أغثنا ، اللهم أغثنا ، اللهم إنا نسألك غيثًا مُغيثا ، هنيئًا مريئا ، سحَّا طبقا ، نافعًا غير ضار .
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .